Ketua Ansor Buleleng : Pemimpin Itu Tidak Hanya Asal Perintah, Tapi Datangi dan Sering-Sering Ajak Ngopi

Ketua PC GP Ansor Buleleng Abdul Karim Abraham

NUPEDIA.ID, BALI – Generasi Muda Nahdlatul Ulama di Pulau Dewata siapa yang tidak kenal Abdul Karim Abraham atau yang lebih diakrab dipanggil Kang Iboy. Dia adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng.

Perannya sebagai pimpinan tertinggi di PC GP Ansor Buleleng menjadikan Ansor di Buleleng dan Buleleng khususnya dikenal masyarakat. Mulai dari perannya menjaga toleransi, pendampingan warga atas persoalan sosial yang dihadapi, dll.

Dalam program OSI (Obrolan Berisi) pada Minggu, 08 Mei 2022 Iboy berbagi pengalamannya, diantaranya yang menarik bagi penulis adalah tentang pendampingan masyarakat.

Menurutnya, tugas Ansor tidak hanya melulu menjaga NKRI, melawan kolompok-kolompok yang memojokkan atau memusuhi NU, tapi tugas penting lainnya adalah hadir ditengah-tengah persoalan masyarakat.

"Kami pernah mengadvokasi masyarakat disini (Buleleng) terkait penolakan terhadap toko-toko modern yang menjamur," terangnya tegas.

Sebab menurut Iboy, keberadaan toko modern mengancam keberlangsungan warung-warung kecil milik warga.

"Walaupun pada akhirnya, kami tidak mampu untuk melawan itu, artinya toko modern tetap berlanjut," lanjut Iboy.

Terpenting baginya, usaha untuk memperjuangkan masyarakat sudah dilakukan.

Diskusi lainnya yang menarik adalah soal membangun kesolidan/kekompakan anggota banser dari tingkat ranting/desa, pac/kecamatan, sampai pc/kabupaten.

Iboy menceritakan, hal itu bermula dari silaturahim dengan nongkrong dan ngopi.

"Saya sejak menjadi Ketua Ranting, rajin silaturahim ke bawah untuk ngopi-ngopi bersama shabat-shabat di bawah," terangnya.

"Dari situ kemudian emosioanal terbangun, kekompakan, kebersamaan, dan kepedulian," lanjutnya.

Ditanya berapa lama hal itu ditekuni oleh Host OSI Wandy, "kurang lebih 2-3 tahun," jawabnya singkat.

Lebih lanjut Iboy berbagi, hal penting dimiliki pimpinan dalam organisasi, tidak hanya asal perintah dan intruksi, tapi datangi, rangkul, ayomi, dekati hatinya.

"Dengan begitu anggota akan saling memiliki. Sebab kita di Ansor tidak di gaji, tapi kita ngalap barokah," tutup pemuda dua anak ini.

Comments