Pesta Demokrasi Telah Usai, Waktunya Saling Merangkul

Subhan Khana, M.Pd. Dosen STAI Denpasar

NUPEDIA.ID, DENPASAR – Pesta demokrasi telah terlaksana 9 Desember 2020 lalu di beberapa daerah, kontestasi politik dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit serta perang wacana yang menggigit. Berbagai strategi sudah selesai diluncurkan, mulai dari politik kontraktor (asal jadi dapat suntikan dana) serangan fajar serta pendekatan ketokohan menjadi bagian rumit dari pesta demokrasi. Kini pemenang sudah dideklarasikan melalui quiq count baik itu pemenang petahana atau dari pemain baru, semua adalah bentuk kontestasi di tengah bangsa kita.

Mari kita tinggalkan sudah pertikaian tersebut, Indonesia bukan hanya berbicara tentang hari- H namun masih banyak tugas-tugas kerakyatan yang menjadi pekerjaan bersama. Kemiskinan yang merajalela, covid-19 yang belum juga reda serta pengangguran yang masih tak ada ujungnya ini adalah tugas pertama bagi para pemangku kebijakan harus segera mencari jalan keluarnya

Sudah terlalu lama negara kita dipecah karena pertikaian antar saudara, perebutan kekuasaan serta bagi-bagi jabatan yang tak ada ujungnya. Saatnya kita rangkul bersama pertikain menjadi satu kekuatan suci untuk membangun Indonesia abadi. Indonesia yang disegani dimata dunia dilihat oleh semua bangsa-bangsa.

Cita-cita sang pendiri Indonesia mulai dari Sukarno bung Hatta terlalu murah untuk kita pertikaikan siapa yang berhak duluan atau saling sikut-menyikut karna berbagi kedudukan. Sudah sekian lama Indonesia disibukkan dengan perang antara petahan dan oposisi, antara yang kritis dan yang dapat kursi antara yang pura-pura nasionalisme sejati dengan yang penuh ambisi.

Indonesia sudah lama terbaring di atas ranjang kerakusan dan keserakahan. Ia bagaikan kapal tua yang retak dan tak bisa berjalan diatas samudra yang menjulang, sementara negara-negara lain sudah mulai mengayun kapal dengan baik. Berbagi peran dengan adil, saling menjadi pemeran terbaik dalam satu posisi yang iya tempati. Mereka hanya berfikir apa yang bisa mereka berikan untuk kapal tercinta bukan lagi berfikir apa yang dia dapatkan dari posisi yang ia punya.

Mari kita benahi bersama, lubang-lubang ini, kita sulam seksama, yang menjadi nahkoda penunjuk jalan yang baik, pembaca peta yang bijak serta memberikan masukan yang solutif. Sementara yang menjadi begian lain harus selalu patuhi terhadap perintah nahkoda agar Indonesia bisa berlayar dan mengarungi samudra.

Indonesia adalah sebuah negara yang besar, baik dilihat dari luas wilayah atau jumlah penduduknya. Tak mungkin bisa kita jalankan dan dikelola tata kepemerintahan dengan satu orang saja, dengan sekelompok saja, akan tetapi harus ada kesadaran yang kolektif untuk membangun Indonesia bersama dengan saling berpegangan tangan demi kemakmuran dan kejayaan negara kita

Kita ingat. Masing-masing dari kita bangsa Indonesia memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga Indonesia, memiliki hak yang sama untuk di perlakukan sebagai warga negara serta memiliki peran dan fungsi yang sama dalam menjaga stabilitas bangsa. Oleh karena itu menjadi pemeran yang baik, menjadi warga negara yang bijak. Ambillah bagian dari satu bagian, penuhilah kewajiban atas dasar kecintaan serta berprilakulah sebagai warga negara yang lebih mementingkan persaudaraan.

Berhusnuzhonlah, Kontestasi politik bukanlah tujuan melaikan jalan. Ia yang menjadi garis tangan bangsa adalah ia yang terbaik, bukan lantaran yang gagal tidak baik akan tetapi di tempat lain Allah sudah siapkan jalan yang lebih baik.

Penulis : Subhan Khana, M.Pd. (Dosen STAI Denpasar)

Berita Lainnya

berita terbaru
Muslimat NU

Perempuan dan Kebangkitan NU di Cisarua

01/02/2022 - 19:18

berita terbaru
Masyarakan dipaksa memilih sesuatu pilihan bukan atas dasar pertimbangan social, ekonomi politik dan agama, tetapi iya dipaksa menentukan pilihannya atas dasar identitas suatu kelompok.

Politik Kiai dan Nyai

08/12/2020 - 12:34

Comments